Kelemahan Ketika Memiliki Apotik Hidup



Banyak masyarakat yang mudah bangga akan sesuatu yang pernah mereka lakukan seperti diantaranya sifat pamer ato pembanggan diri sendiri, Hal ini justru dapat menjadi berbahaya jika dalam hal kesehatan. Terkadang ketika kita menemukan seseorang yang sudah terbiasa memakai obat tradisional yang bisa ia ambil di pekarangan rumahnya. Ia justru mengabaikan penyakit-penyakit berat yang diantaranya penyakit TBC, flu burung, dll. Seseorang yang memiliki penyakit TBC ia senantiasa terlihat seperti penyakit batuk-batuk biasa dan karena keluarganya sering menggunakan obat-obatan tradisional ia mengobati penyakitnya dengan obat pereda batuk yang biasa ia minum ketika sakit. Namun, hal yang akan terjadi ialah penyakit TBC nya akan bertambah parah. Karna hal tersebut kita harus memperhatikan, setiap penyakit yang dihadapi seperti:
1)    Jangan semena-mena memandang penyakit, baik itu penyakit ringan atatupun penyakit berat.
2)    Apabila penyakit terus berlanjut segeralah hubungi puskesmas atau rumah sakit terdekat.
3)    Hindarilah pemakaian obat (tradisional) secara berlebihan, karna walaupun obat tradisional tidak memiliki effect yang berat, namun jika dipakai terlalu sering, maka hasilnya tidak akan bagus juga.
maka kita harus hati-hati dalam menghadapi suatu penyakit. Karna, apabila salah langkah kematian senantiasa akan mengelilingi hidup anda.

Sejarah Apotek Hidup



Apotek hidup telah ada ratusan tahun yang lalu, dimana pengolahan obat masi serba tradisional, Pada masa tersebut pengobatan tradisional di gunakan oleh para tabib yang memiliki  pengetahuan tentang jenis tanaman dan effect dari tanaman tersebut. Oleh karena itu, penggunaan apotek hidup sangatlah berperan untuk mempermudah para tabib agar ketika mereka membutuhkan suatu tanaman, mereka tidak perlu repot untuk mencarinya kembali. Oleh karena itu Apotek hidup ini dapat dikatakan memiliki peran penting dalam kehidupan masa lampau.

Sejarah Bahan Peledak



Bahan peledak telah dikenal manusia sejak abad ke 13 oleh bangsa Cina jaman dinasti Sung, terutama sebagai mesiu atau serbuk hitam, yang dikenal dengan nama black powder. Roger Bacon (1242) telah menulis formula dari black powder. Berthold Schwarz (1300) juga menulis tentang black powder sebagai senjata api.
Tiga abad kemudian Kasper Weindl (1627), untuk pertama kalinya black powder digunakan pada operasi penambangan di Hungaria. Amerika ( 1675) membangun pabriknya di Massachusetts. Selanjutnya Inggris (1689) menggunakan bahan ini untuk penambangan timah. Begitu juga dengan Switzeland (1696) menggunakannya untuk konstruksi jalan. Sedangkan di Amerika (1705) digunakan untuk penambangan tembaga. Perang dunia I (1917) menghabiskan sebanyak kurang lebih 115.000 ton black powder, akhirnya pada tahun 1940 pemakaian black powder berkurang dan banyak pabrik tutup, selanjutnya bahan ini jarang digunakan dalam dunia pertambangan dan diganti bahan peledak lain yang lebih aman dan ekonomis, sementara untuk keperluan militer masih dipakai sebagai mesiu (proyektil peluru).
Bahan peledak “black powder” terindikasi oleh pihak penyidik kepolisian sebagai bahan peledak lemah (low explosive). Apapun jenis dan bentuk bahan peledaknya yang jelas sifat utama bahan peledak adalah tetap berbahaya bagi keselamatan orang-orang yang berada di sekitarnya dan efeknya dapat merusak dan membunuh, apabila ditangani oleh orang-orang yang mempunyai niat untuk suatu kejahatan.