Carl Edward Sagan (1934¬1996) Pakar Biologi Luar Angkasa

Carl Sagan, sebagaimana astronom pada umumnya, memang tidak menghasilkan penemuan di bidang rekayasa yang membuat hidup menjadi lebih mudah. Meskipun demikian, nama Carl Sagan seolah telah menjadi "jaminan mutu" bagi kegiatan pencarian eksistensi kemanusiaan di alam semesta melalui kepiawaiannya dalam melakukan popularisasi sains dan membawanya ke ruang publik secara menyenangkan, baik melalui kuliah umum, buku-buku populer maupun serial televisi yang sukses luar biasa.

Meski bidang riset Sagan cukup luas, mulai dari astronomi, kosmologi hingga filsafat sains, minatnya terutama pada asal usul kehidupan di Bumi dan kemungkinan kehadiran kehidupan di tempat lain di alam semesta, yang dikenal sebagai eksobiologi. Pada tahun 1960-an, Sagan sukses memodifikasi eksperimen ilmiah Stanley Miller dan Harold Urey yang telah lebih dulu berhasil menyintesis asam amino dan asam hidroksi dari campuran metana, amonia, uap air, dan hidrogen di laboratorium.

Alih-alih menggunakan hidrogen seperti pendahulunya, Sagan menambahkan hidrogen sulfida ke dalam bahan campuran dan menyinarinya pula dengan cahaya ultraviolet selain lucutan listrik untuk menyimulasikan efek cahaya Matahari. Eksperimen hasil modifikasi Sagan ternyata mampu membentuk asam amino dan beberapa macam gula termasuk asam nukleat. Asam nukleat dikenal sebagai substansi dasar kehidupan yang bertanggung jawab atas pewarisan karakteristik genetik dan memacu pembentukan protein-protein tertentu. Baik pekerjaan Miller, Urey, maupun Sagan berhasil menunjukkan kehadiran material kimiawi di awan Bumi saat purba, sejauh berada di bawah kondisi yang sesuai, dapat bergabung untuk membentuk apa yang oleh ilmuwan disebut sebagai the building blocks of life.

Saat sedang menyelesaikan studi doktoralnya, Sagan turut serta dalam program eksplorasi keplanetan milik NASA (National Aeronautics and Space Administration), mulai dari misi Mariner, Pioneer, Voyager hingga misi Galileo. Sagan pula yang membantu mendesain prasasti logam yang dibawa oleh wahana Pioneer 10 dan 11 yang menggambarkan ras manusia dan posisi Bumi tempat tinggalnya di tata surya.

Sagan mengawali riset besar pertamanya tentang permukaan dan atmosfer Venus pada awal 1960-an. Dengan elegan Sagan menunjukkan, anggapan banyak ilmuwan kala itu yang meyakini bahwa suhu permukaan Venus cukup nyaman bagi manusia adalah salah. Melalui model matematika atmosfer Venusnya yang menjadikan emisi yang dihasilkan planet sebagai alat ukur yang akurat tentang temperatur permukaannya, Sagan justru mampu membuktikan bahwa temperatur permukaan Venus terlampau panas untuk dapat ditoleransi manusia (lebih dari 400 derajat Celsius!).

Kontribusi Sagan lainnya dalam studi keplanetan adalah penjelasannya tentang penyebab hadirnya variasi warna di permukaan Planet Mars. Alih-alih mendukung pendapat bahwa variasi tersebut sebagai bukti adanya aktivitas kehidupan di planet Merah, Sagan justru menyarankan bahwa daerah berwarna gelap di Mars yang terlihat dari Bumi tidak lain adalah bukit-bukit yang digerus oleh angin Martian yang membawa terbang partikel-partikel debu halus dengan warna yang lebih terang ke lembah-lembah. Teori ini berhasil dikonfirmasi kemudian oleh wahana Mariner 9 yang dikirimkan ke Mars.

Bersama ilmuwan Amerika lainnya, Paul dan Anne Ehrlich, pada 1980-an Sagan memformulasikan gagasan nuclear winter yang dilatarbelakangi studinya tentang atmosfer Bumi yang intensif sejak satu dekade sebelumnya. Bersama koleganya, Sagan berteori bahwa ledakan tidak sampai setengah dari jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki Amerika Serikat dan Rusia dapat melontarkan abu dan debu yang sangat tebal ke atmosfer yang mampu menghalangi sinar Matahari hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Efek ini terutama akan dirasakan di Bumi belahan utara.

Terhalangnya sinar Matahari akan memicu musnahnya kehidupan tumbuh-tumbuhan dan iklim pun berubah menjadi lebih dingin. Lapisan ozon kemungkinan besar juga akan terpengaruh yang akan menimbulkan kerusakan lebih lanjut akibat penetrasi radiasi ultraviolet Matahari. Seperti halnya efek kartu domino, peradaban manusia pun dapat hilang akibat bencana berkepanjangan ini. Meski pada tahun 1985 memperoleh pengakuan dari Departemen Pertahanan AS perihal keabsahan konsep yang diajukan, dikatakan bahwa proposal tersebut tidak akan memengaruhi kebijakan pertahanan. Dilahirkan 9 November 1934 di salah satu kota paling sibuk di dunia, New York, Sagan memperoleh gelar sarjana fisikanya dari University of Chicago pada 1955. Selang lima tahun kemudian, diperolehnya gelar doktor bidang astronomi dan astrofisika dari universitas yang sama. Sejak tahun 1960 hingga 1962 menjadi rekan peneliti di University of California, Berkeley, dilanjutkan mengajar di Harvard University sampai dengan tahun 1968 sekaligus melakukan penelitian di Smithsonian Astrophysical Laboratory. Pada 1968, Sagan hijrah ke Cornell University di Ithaca, New York dan menjabat sebagai Direktur Laboratory for Planetary Studies. Pada tahun 1970, tokoh dalam popularisasi sains ini menjadi profesor astronomi dan sains antariksa di Cornell University, posisi yang dipegangnya sampai wafat pada 20 Desember 1996.

Meski disibukkan dengan aktivitasnya sebagai ilmuwan, Sagan tetap mendedikasikan waktu yang dimilikinya untuk menghadirkan sains ke ruang publik. Dalam pandangannya, khalayak luas berhak mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari penelitian yang dibiayai oleh pajak rakyat. Pada 1978, Sagan memperoleh penghargaan Pulitzer untuk bukunya The Dragons of Eden: Speculations on the Evolution of Human Intelligence. Buku-buku populer karyanya yang lain adalah Broca’s Brain: Reflections on the Romance of Science (1979), novel Contact (1985), Pale Blue Dot (1994), dan The Demon-Haunted World (1996).

Pada 1980, Sagan sempat membintangi acara televisi bertajuk "Cosmos", sebuah acara televisi berseri yang populer di Amerika Serikat. Beberapa bulan sepeninggalnya, diluncurkan sebuah film yang dibintangi aktris ternama Jodie Foster yang digarap berdasarkan novel Contact-nya. Bersama I.S. Shklovsky (astrofisikawan Rusia) dan Hermann Oberth (matematikawan dan insinyur peroketan kelahiran Rumania), Carl Sagan termasuk sedikit ilmuwan yang menaruh perhatian terhadap kemungkinan kehadiran "astronaut purba" di Bumi sejak dulu sebagaimana digagas dalam Paleocontact Theory.

Peradaban di Bima Sakti


Hampir 50 tahun silam, fisikawan Giuseppe Cocconi dan Philip Morrison menulis sebuah artikel yang menyodorkan gagasan bahwa teknologi teleskop radio pada masa itu sudah cukup sensitif untuk dapat menangkap sinyal komunikasi dari suatu peradaban jauh yang mungkin ada yang mengorbit di bintang-bintang lain. Frank Drake, seorang astronom radio, yang terinspirasi dengan artikel kedua fisikawan kemudian memprakarsai berlangsung pertemuan dua hari di Green Bank, West Virginia, pada bulan November 1961 yang dihadiri oleh teknisi radio, astronom, dan pakar biologi.

Dalam pertemuan Green Bank tersebut, Drake hadir dengan persamaan yang untuk selanjutnya dikenal sebagai Persamaan Drake (Drake Equation). Dengan persamaannya itu Drake menjadi orang pertama yang menemukan metode pencarian sinyal-sinyal dari peradaban jauh secara sistematik yang sekaligus berhasil memecah satu "pertanyaan besar" ke dalam sejumlah "pertanyaan-pertanyaan kecil". Drake telah menyusun sebuah persamaan matematika untuk memberi landasan sistematik bagi pencarian peradaban di alam semesta yang mahaluas ini.

Persamaan tersebut mengandung tujuh buah besaran yang harus dihitung secara terpisah untuk memperoleh informasi tentang banyaknya peradaban yang teramati di galaksi kita, Bima Sakti. Ketujuh besaran tersebut meliputi laju kelahiran bintang di galaksi, fraksi planet yang hadir menemani bintang-bintang induk mereka, fraksi planet yang menyerupai Bumi, fraksi planet dengan kehidupan, fraksi kehidupan cerdas yang dapat hadir di planet-planet yang menunjang kehidupan, fraksi kehidupan cerdas yang mampu berkomunikasi, dan kala hidup peradaban yang mengenal teknologi untuk berkomunikasi tersebut.

Meski lebih dari 40 tahun berselang, projek SETI (Search for ExtraTerrestrial Intelligent; projek ini tak berkaitan dengan penelitian UFO) tidak juga membuahkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu berhasil ditangkapnya sinyal radio dari kehidupan cerdas lain di Bima Sakti. Dalam artikel mereka di jurnal ilmiah Nature pada tahun 1959, Cocconi dan Morrison menulis, "The probability of success is difficult to estimate, but if we never search, the chance of success is zero."

Seandainya kita memilih bersikap pesimis tentang keberadaan peradaban lain tersebut, di atas kertas berapa banyakkah kehidupan cerdas yang juga memiliki pemikiran seperti manusia di Bumi untuk mengirimkan sinyal-sinyal komunikasi? Perhitungan yang dilakukan Eric Schulman seperti termuat dalam artikelnya di majalah Mercury edisi September 2000 menghasilkan peradaban cerdas yang mampu berkomunikasi di Bima Sakti tidak kurang dari 50.000 buah peradaban. Jumlah yang lebih dari cukup untuk saling berkorespondensi atau saling berkunjung manakala teknologi untuk mewujudkannya sudah dapat kita kuasai. Benarlah kiranya salah satu dialog dalam drama Hamlet karya William Shakespeare yang terkenal itu, "There are more things in heaven and earth, Horatio, than are dreamt of in your philosophy."

Objek-objek UFO

Pada tahun 1989, ketika Discovery mengorbit Bumi, pengawas misi luar angkasa di Houston terenyak kaget ketika tiba-tiba saja mendengar dengan jelas suara James T. Kirk, komandan Enterprise – pesawat penjelajah antargalaksi – dalam serial TV Star Trek, yang terpancar dari pesawat ulang-alik tersebut. Usut punya usut, Mike Coates yang menjadi komandan misi Discovery ternyata telah merekam suara Kapten Kirk dari salah satu film "Star Trek" dan memancarkannya ke stasiun di Bumi sebagai sebuah lelucon.

Setelah melalui proses investigasi, sebagian besar fenomena UFO yang dilaporkan tidak lain adalah benda ataupun fenomena alam yang disalahkenali oleh si pengamat. Benda atau fenomena alam yang kerap kali mengecoh itu sebenarnya objek-objek astronomi seperti komet, meteor besar (bolide), kelima buah planet terang (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus), peristiwa konjungsi planet, pesawat udara, satelit buatan, balon pengamat, bola cahaya (ball lightning), atau sekadar awan lentikular.

Salah satu laporan yang cukup terkenal mengenai penampakan UFO pernah disampaikan oleh Jimmy Carter yang saat itu masih menjabat Gubernur Negara Bagian Georgia. Diceritakan oleh sang gubernur bahwa pada awal malam 6 Januari 1969 tersebut ketika berada di teras menunggu dimulainya acara pertemuan Lion’s Club, dia telah melihat sebuah benda tunggal yang bersinar sangat terang, yang bergerak mendekat dan menjauh beberapa kali di arah langit barat pada ketinggian sekitar 30 derajat dari cakrawala. Ilustrasi yang disampaikan tersebut dengan segera menunjuk planet Venus sebagai UFO yang dimaksud, yang ketika itu sedang bersemayam di ketinggian 25 derajat arah barat dengan terang maksimum.

Tentu saja Venus tidak akan bergerak mendekat dan menjauh seperti yang dilaporkan, namun pendeskripsian seperti itu merupakan kesalahan mengidentifikasi planet terang yang lazim terjadi. Pada saat mencapai terang maksimumnya, Venus bisa terlihat 100 kali lebih terang dibandingkan bintang bermagnitudo 1. Bukan hanya sang gubernur, mereka yang terlatih sekalipun – seperti pilot pesawat atau personel militer – dapat melakukan kesalahan yang sama.

Masih tentang Venus, selama Perang Dunia II pesawat udara Amerika Serikat beberapa kali pernah mencoba menembak jatuh Venus yang disangka sebagai pesawat musuh! Kisah lainnya terjadi pada bulan Oktober 1973, ketika Gubernur Ohio kala itu, John Gilligan, menjadi berita utama karena kesaksiannya yang telah melihat UFO, padahal hanya salah kesan terhadap planet Mars.

Pada tahun 1997 silam, muncul pengakuan dari CIA (Central Intelligence Agency) bahwa pihak militer AS telah melakukan kebohongan publik dengan menyembunyikan informasi tentang adanya pesawat mata-mata Lockheed U-2A dan Lockheed SR-71 sehingga telah disalahkesani oleh masyarakat luas sebagai UFO di dalam lebih dari setengah laporan yang masuk selama periode 1950-an hingga 1960-an.