"Handphone" Jadi Medium Bakteri Mematikan

Para peneliti di Skotlandia menemukan bahwa bakteri mematikan dapat bersarang di handphone milik kita. Koloni bakteri dikenali berkembang di handphone para dokter di rumah sakit. Mayoritas bakteri yang ada diketahui tidak berbahaya. Namun, ada pula yang bisa berefek fatal, di antaranya Clostridium difficile (C. diff) dan MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus). Pada tahun 2007, terdapat 6.430 kasus infeksi Clostridium difficile di rumah sakit Skotlandia. Adapun kasus kematian yang berhubungan dengan MRSA mencapai ratusan dalam periode yang sama. Bakteri mematikan itu tanpa disadari bisa terbawa via handphone pasien atau para staf rumah sakit. Hasil penelitian tersebut diumumkan oleh peneliti kesehatan dari Western General Hospital di Skotlandia, Richard Brady. Brady memaparkan, studi ini dilakukan terkait kian melonjaknya pemakaian handphone oleh para staf rumah sakit. Namun masalahnya, belum ada panduan memadai tentang cara membersihkannya sehingga bebas dari bakteri. Handphone pun dinilai bisa jadi sarana transmisi infeksi berbahaya karena sering bersentuhan dengan tangan dan mulut pengguna. Terlebih bakteri yang ada dapat terus bertahan hidup jika handphone tidak dibersihkan dengan saksama. Penelitian dilakukan dalam bagian Scottish Infection Research Network dan dikerjakan bersama beberapa ilmuwan perguruan tinggi, misalnya dari Manchester Metropolitan University.

Oleander, Bunga Mentega yang Beracun

BERITA di media massa mengenai tanaman hias di Kota Bandung mengandung racun yang berbahaya rupanya berdampak besar. Sebagian warga Bandung dibuat terhenyak, mereka seolah baru menyadari selama ini hidup di tengah lingkungan yang dipenuhi oleh tanaman beracun. Tak jarang juga warga dilanda rasa takut dan panik. Kepanikan itu kemudian mendorong tindakan "tak berperiketanaman", membabat habis beberapa jenis tanaman yang sudah puluhan tahun nyaman sebagai penghias kota atau rumah. Oleander pun menjadi korban paling mengenaskan dari aksi eliminasi tersebut.

Sejak puluhan tahun oleander (Nerium oleander) dibudidayakan sebagai tanaman hias, baik di pekarangan rumah maupun taman-taman kota atau di pinggiran jalan. Tanaman yang berasal dari Maroko dan Portugal itu sebenarnya tak terlalu sedap dipandang. Namun, bentuknya yang unik berupa semak-semak yang bersifat evergreen shrub menjadikan tanaman ini banyak diminati. Tak heran, di sudut-sudut rumah, pekarangan, taman kota, dan median jalan, tanaman dengan bunga berwarna merah muda ini tampil percaya diri.

Banyak nama diberikan kepada bunga yang satu ini seperti zakum (Turki), zaqqum (Arab), arali (Tamil), jia zhu tao (Cina), atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama bunga mentega. Sebutan ini tampaknya berasal dari kata "Olea" yang dalam bahasa Latin bermakna oil atau berminyak. Mungkin agak kurang enak didengar jika namanya menjadi "bunga minyak", makanya disebut dengan bunga mentega. Tanaman ini dikenal akan kemampuannya memproduksi minyak yang bisa memenuhi lahan sekitar tempatnya tumbuh. Orang Sunda sendiri menyebutnya kere atau jure.

Paling beracun

Tanpa kita sadari, pada umumnya tanaman hias memang beracun. Namun, berbeda dengan jenis tanaman lain yang mengandung racun hanya pada beberapa bagian tubuhnya, seperti bunga atau getah, oleander mengandung racun pada tiap bagian tubuhnya. Oleander adalah salah satu tanaman yang paling beracun di dunia dan mengandung sejumlah komponen racun yang banyak di antaranya yang bisa menimbulkan kematian, khususnya pada anak-anak. Derajat keracunan bunga oleander diyakini secara ekstrem sangat tinggi. Namun, dari sejumlah kasus yang dilaporkan, hanya sedikit kasus keracunan oleander yang menimbulkan kematian.

Racun paling penting dalam bunga oleander adalah oleandrin dan nerrine yang berhubungan dengan glikosid jantung. Racun-racun tersebut terdapat pada semua bagian tanaman, namun umumnya terkonsentrasi pada bagian getah yang tampilannya berwarna putih seperti susu. Jika memapar kulit manusia, getah ini bisa menghalangi reseptor luar kulit manusia sehingga menyebabkan kulit jadi kebas atau mati rasa. Ada keyakinan bahwa oleander mengandung beberapa senyawa berbahaya yang belum diketahui atau belum diteliti. Kulit kayu oleander mengandung rosagenin yang diketahui memiliki efek mirip strychnine. Keseluruhan bagian tanaman yang mengandung racun tersebut menyebabkan reaksi merugikan, baik bagi manusia maupun hewan.

Oleander juga diketahui dapat menyimpan racunnya meski dikeringkan. Diyakini bahwa 10-20 helai daun yang dikonsumsi oleh orang dewasa dapat menyebabkan reaksi merugikan, dan satu helai daun cukup untuk dijadikan senjata mematikan jika dimakan oleh anak kecil atau bayi. Di Amerika Serikat, menurut Toxic Exposure Surveillance System (TESS), pada 2002 diketahui ada 847 orang yang keracunan akibat berhubungan dengan oleander.

Sementara itu, di belahan dunia lain, ada sejumlah laporan tak terhitung mengenai kasus-kasus bunuh diri dengan mengonsumsi biji bunga oleander di India Selatan. Dalam dunia binatang, kandungan racun sekitar 0,5 miligram per kilogram berat badan hewan sudah cukup mematikan bagi banyak hewan, dan berbagai dosis lain akan memengaruhi hewan lain. Sebagian besar hewan dapat menderita reaksi atau kematian akibat tanaman ini.

Efek keracunan

Di Indonesia sendiri belum ada laporan yang menyebutkan kasus-kasus keracunan yang secara spesifik berkaitan dengan tanaman oleander. Jika pun ada kejadian orang keracunan oleander, sangat mungkin tidak terlaporkan karena berbagai alasan, mulai dari ketidaktahuan korban, belum adanya perhatian terhadap potensi ancaman racun dari oleander, hingga kemungkinan salah deteksi. Jadi, jangan berharap banyak kita bisa memiliki data menyangkut kasus-kasus keracunan oleander.

Berdasarkan studi di AS, kasus keracunan oleander umumnya terjadi ketika bagian dari tanaman tersebut masuk ke sistem pencernaan. Reaksi terhadap tanaman ini ada dua, yakni menyebabkan efek jantung dan gastrointestinal (berkaitan dengan sistem pencernaan antara lambung dan usus). Efek gastrointestinal berupa rasa mual dan ingin muntah, pengeluaran air liur berlebih, nyeri perut, dan diare yang disertai pendarahan. Meski demikian, di AS sendiri kasus keracunan oleander lebih banyak ditemukan pada hewan, terutama kuda, dengan gejala umum sakit perut.

Sementar reaksi yang berhubungan dengan jantung berupa denyut jantung tak beraturan, kadang ditandai oleh detak di bawah normal. Jantung juga berdegub tak keruan, tak beraturan, dan tanpa irama spesifik. Pada kasus yang ekstrem, bisa menyebabkan pasien pucat dan kedinginan karena sirkulasi darah yang tidak beraturan atau rendah. Reaksi terhadap keracunan dari tanaman ini dapat juga memengaruhi sistem saraf pusat. Gejalanya bisa berupa perasaan kantuk yang kuat, otot gemetar, limbung, bahkan pingsan yang berakibat pada kematian. Getah oleander bisa menyebabkan iritasi pada kulit, radang pada mata, dan reaksi alergi yang ditandai oleh dermatitis (radang infeksi kulit).

Perawatan medis

Proses keracunan dan reaksi terhadap tanaman oleander berlangsung sangat cepat, sehingga menuntut perawatan medis yang segera terhadap korban atau yang diketahui keracunan, baik pada hewan maupun manusia. Rangsangan untuk muntah dan yang berhubungan dengan lambung adalah tindakan pencegahan untuk mengurangi penyerapan kandungan racun dalam sistem pencernaan. Arang bisa digunakan untuk membantu menyerap sisa kandungan racun (Inchem, 2005). Dalam kasus-kasus tertentu, perlakuan medis lebih lanjut mungkin dibutuhkan, tergantung pada tingkat kegawatan nya.

Mengeringkan seluruh bagian tanaman oleander tak akan mampu menghilangkan racun pada tanaman ini. Tindakan itu justru berisiko terhadap hewan seperti domba, kuda, lembu, atau hewan gembalaan lain, karena hanya dengan 100 gram cukup untuk membunuh seekor kuda dewasa. Potongan bagian dari tanaman juga berbahaya bagi hewan, khususnya kuda, karena rasanya manis.

Namun racun oleander tak mempan terhadap beberapa jenis hewan invertebrata (tak bertulang belakang). Bahkan, hewan-hewan tersebut menjadikan tanaman oleander sebagai sumber pakan mereka. Sebut saja ulat bulu oranye oleander caterpillar dengan bulu-bulunya yang hitam dan tawon oleander (Syntomeida epilais). Keduanya termasuk kebal terhadap oleander dan bertahan hidup dengan cara memakan bagian bubuk kayu di sekitar jaringan vena daun oleander dan menghindari seratnya.

Sementara kupu-kupu gagak atau common crow butterfly (Euploea core) memodifikasi racun oleander untuk menjadikan tubuhnya tidak enak atau tidak menyenangkan bagi para pemangsa, khususnya kelompok burung.

Mengingat bentuk dan penampilan tanaman dan peruntukannya sebagai tanaman hias, rasanya sangat kecil peluangnya tanaman tersebut masuk ke sistem pencernaan melalui cara yang disengaja. Potensi terbesar memang ada pada hewan. Oleh karena itu, agak berlebihan dan kurang bijaksana jika untuk menghindari terjadinya keracunan pada menusia, tanaman tersebut "dibantai" habis.

Sudah saatnya pula kita membudayakan perilaku positif dengan membiasakan memberi identitas yang jelas kepada setiap tanaman yang kita tanam. Setidaknya, di taman-taman kota yang dipenuhi rimbunan oleander terpampang papan nama, "Oleander, Bunga Mentega Beracun".

"Fruit Leather" Si Lembar Tipis Bergizi

KALAU diartikan berarti kulit buah, tetapi sebenarnya bukan dari kulit buah. Makanan kecil yang berasa manis ini malah belum terdengar gaungnya di pasar Indonesia.

Usia anak-anak sampai dewasa, siapakah yang tidak suka mengonsumsi makanan-makanan yang disebut camilan? Aneka ragam bentuk dan rasa dari makanan olahan tidak susah dicari di toko-toko swalayan. Akan tetapi, pernahkah Kawan mendengar fruit leather?

Kalau diperhatikan sekilas pandang, jenis makanan ini seperti terbuat dari kulit buah-buahan yang dikeringkan. Lagipula arti harfiah leather jika diterjemahkan menjadi kulit. Padahal, sebenarnya makanan olahan ini bukan dari kulit buah.

Makanan seperti ini, menurut tulisan Marleen Herudiyanto, dosen dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, telah banyak diproduksi di Amerika, India dan negara-negara lainnya. Perkembangan penjualan fruit leather sedang meningkat di Amerika dan Eropa Barat, sedangkan di Indonesia fruit leather masih belum diproduksi secara komersial.

Karena masih jarang terdengar di Indonesia, pada saat dipamerkan, produk ini menarik perhatian konsumen Indonesia. Tahun lalu, kawan-kawan dari FTIP Unpad memenangi sebuah kontes makanan etnik tahun lalu. Kontes itu diselenggarakan oleh Dinas Indagro Provinsi Jawa Barat.

Teorinya, fruit leather merupakan salah satu produk manisan kering dari buah-buahan yang diawetkan dengan gula pada konsentrasi tertentu. Menurut Marleen, fruit leather mempunyai keuntungan tertentu yaitu daya tahan simpan yang cukup tinggi, mudah diproduksi dan nutrisi yang terkandung didalamnya tidak banyak berubah. Selain itu, biaya penanganan, pengangkutan, dan penyimpanan relatif rendah karena lebih ringan.

Merunut pada definisi yang diberikan, produk ini bukan berasal dari kulit buah. Namun, buah-buahan, umumnya buah-buahan tropis, yang dibuburkan, lalu diolah hingga membentuk lembaran tipis dengan tekstur yang plastis, rasanya manis tetapi masih memiliki cita rasa khas buah yang digunakan, yang dihamparkan di atas loyang dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50-600 C. Jenis buah-buahan yang telah diuji coba untuk jenis produk ini di antaranya stroberi, jambu biji, campuran mangga dan wortel, campuran labu kuning dan nenas.

Sekar Dianie S., salah satu mahasiswa yang ikut memamerkan fruit leather tahun lalu, telah berkali-kali melakukan percobaan campuran mangga kweni dan wortel. Tambahan wortel merupakan cara untuk mendapatkan warna menarik yang akan berpadu dengan aroma kweni yang menjadi produk olahan utamanya. "Sudah tidak perlu lagi ada zat pewarna lain," kata mahasiswa yang tengah menyusun laporan skripsinya ini.

Kalaupun ada tambahan zat lainnya, katanya, berupa gula sebagai pemanis dan gliserol yang membuat teksturnya lebih plastis. Menurut dia, gula, dalam konsentrasi tertentu, bisa menjadi unsur yang mengawetkan secara alami karena bisa mencegah mikroorganisme.

Pada pengolahan jenis buah yang lain, seperti stroberi, yang dilakukan oleh Febby Megasari, ditemukan manfaat vitamin yang tidak sedikit pada olahan stroberi. Setelah diolah, vitamin C pada buah itu meningkat menjadi 99.275 mg per 100 gram. Peningkatan itu terjadi pada saat pengeringan. Saat pengeritang terjadi, ada proses padatan dari gula, asam, serat, vitamin, dan mineral dari komposisi bahan yang digunakan.

Padahal, merunut data penelitian Febby yang mengutip data Departemen Kesehatan, kadar vitamin C pada stroberi segar adalah 60mg/100 gram. Kebutuhan harian vitamin C pada umumnya yaitu 45-75 mg per hari, yang berarti asupan ini dapat diperoleh dengan mengonsumsi 50 g fruit leather stroberi.

Selain itu, untuk produk olahan stroberi ini memberi keuntungan ekonomi yang lumayan. Dari sekitar Rp 125,00 per gram, dapat menghasilkan keuntungan 30%. Estimasi harga jualnya Rp 175,00 per gram. Harga ini lebih murah dari produk impor sejenis sekitar Rp 300,00 per gram.

"Karena prospeknya bagus, pengen juga ya… suatu hari bikin produk massalnya sendiri," kata Sekar.